Wanita sholehah sebuah istilah yang begitu indah dan menjadi dambaan setiap laki-laki beriman. Beragam kriteriapun muncul untuk menggambarkan sosok yang disebut Rasulullah sebagai perhiasan terindah didunia ini. Ada yang memberi batasan yang sangat ringan sehingga hanya mengukur kesalehahan seorang wanita dari tanpilan busananya saja. Namun ada juga yang berlebihan sehingga kriteria shaleh yang disematkan merampas sebagian haknya sebagai seorang manusia, misalnya pada kasus pernikahan yang mana mempelai wanita tidak diberi hak untuk mengutarakan pendapatnya tentang calon suami yang akan melamarnya, dengan anggapan bahwa wanita yang shaleh itu harus sepenuhnya tunduk pada kehendak orang tua, atau ketika sudah menikah nanti pada suaminya.

Sebagai agama pertengahan, islam menempatkan wanita sangat sesuai dengan fitrahnya. Misalnya dalam ilmu dan keyakinan, islam tidak membeda-bedakannya dengan laki-laki. Namun memang dalam beberapa aspek ibadah seperti berpakaian, pembagian harta waris dan yang lainnya islam memberi porsi yang berbeda, tentu karena beberapa pertimbangan seperti perbedaan tanggung jawab di keluarga.

Dari sekian banyak kriteria wanita shaleh yang banyak disebutkan dalam alQuran, hadits atau banyak buku-buku baik dari kalangan ulama dulu atau ulama sekarang, secara garis besar setidaknya ada tiga ciri wanita sholehah:

  1. Cerdas dan berfikir mendalam

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q S Al Mujaadilah 11)

kesalehan hakiki, lahir dari rasa berharap dan takut kepada Allah, keduanya lahir dari pengenalan yang baik dan benar kepadaNya,dan keyakinan yang benar ini akan dapat diraih jika kita mau mengoptimalkan akal fikiran kita untuk merenungkan ayat-ayat Allah(yang tertulis dalam AlQuran dan terhampar di alam semesta).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.( QS Ali Imran 190-191).

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah saw,walau memberi aturan yang lebih ketat, namun beliau memberikan hak yang sama kepada wanita untuk mencari ilmu, bahkan ketika seorang suami hadir sendiri dalam majelis ilmu maka dia diperintahkan untuk mengajarkan pada istri dan anak-anaknya. Begitupun istri-istri Rasulullah terutama ibunda Aisyah, menjadi bukti kecerdasan dan pemahamannya dalam agama sehingga menjadi guru bagi para generasi setelah Rasul wafat. Pepatah mengatakan wanita sebagai madrasah pertama dan tiang Negara, lalu bagaimana madrasah bisa mencerdaskan jika dia sendiri tidak berilmu.

 

  1. Berhati bersih dan beraqidah benar.

Keyakinanan yang baik dan benar akan mengantarkan pada ketenangan dan kejernihan hati. Hal ini akan membuat akal kita dapat berfikir dengan lebih cepat dan tepat. Benar dan salah, baik dan buruk akan lebih mudah dikenali. Wanita shalehahpun akan sangat memperhatikan apa yang dia makan, apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar karena mereka tahu bahwa itu akan mempengaruhi kondisi hati nya yang kemudian akan mempengaruhi sikap dan tindakannya

  1. Berahlak mulia dan bermanfaat bagi sesama

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung( QS Al Qalaam 4)

Rasulullah saw yang digambarkan sebagai manusia teragung oleh Alponso de la martin atau manusia paling berpengaruh oleh Michael H hart. Digambarkan dengan lebih praktis oleh istrinya tercinta Aisyah r.a, bahwa Rasulullah adalah Alquran berjalan. Dan inilah puncak keshalehan yaitu ahlak mulia dan manfaat bagi sesama. Dan itu semua lahir ketika aturan AlQuran dan Sunnah Nabi menjadi kepribadian seseorang. Begitupun wanita shalehah, maka barometer terbaik bagi mereka adalah Alquran dan sunnah Rasul dan para wanita shalehah disekitar beliau. Yaitu mereka yang belajar alQuran, mengamalkan dan mengajarkannya. Dan ini adalah buah dari keyakinan yang kokoh pada Allah , Rabb semesta alam, sehingga sepahit apapun aturan ilahi yang harus dijalani, begitu mudah dan ringan mereka laksanakan. Wallahu A’lam bisshowab (Abu Faqih)

Artikel ini di cari dengan Kata Kunci: